Ket.Foto-Salah satu proyek pengerjaan BRT didaerah jalan Gatot Subroto, Medan pada saat sepi kenderaan pada Sabtu, (12/9/2026). Dok.Ronald Sihombing.
MEDAN – Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) mulai terasa dampaknya bagi aktivitas warga dan pelaku usaha. Penyempitan badan jalan, pagar proyek, hingga terbatasnya akses keluar-masuk disebut membuat mobilitas kendaraan terganggu dan pelanggan sejumlah usaha berkurang.
Pantauan di sejumlah ruas jalan utama Kota Medan, Ada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 9.00 WIB, aktivitas konstruksi terlihat berlangsung di beberapa titik. Kondisi paling terasa di kawasan Jalan Gatot Subroto, khususnya sekitar Tomang Elok, Sei Sikambing hingga Gatot Subroto depan Plaza Medan Fair dan tempat lainnya dikota Medan mulai terjadi kemacetan. Pekerjaan serupa juga berlangsung di Jalan Sisingamangaraja dan sejumlah ruas lainnya yang menjadi bagian dari pengembangan jaringan BRT Mebidang.
Di beberapa titik, alat berat dan pagar proyek mengambil sebagian ruang jalan. Akibatnya, lajur kendaraan menyempit dan arus lalu lintas melambat. Gangguan mobilitas terutama berpotensi terjadi ketika volume kendaraan meningkat.
Sejumlah pelaku usaha di sekitar kawasan pekerjaan mengaku kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas bisnis. Akses pelanggan menuju lokasi usaha menjadi lebih terbatas karena ruang parkir dan jalur keluar-masuk tidak seleluasa sebelum proyek berjalan.
Selain persoalan lalu lintas, warga juga menyoroti munculnya genangan air di sekitar beberapa lokasi pekerjaan serta pengaturan lalu lintas yang dinilai perlu diperkuat.
Masyarakat pada dasarnya mendukung pembangunan transportasi massal tersebut. Namun, dukungan itu disertai permintaan agar pelaksanaan proyek tidak mengorbankan akses warga dan keberlangsungan usaha masyarakat.
“Pembangunan BRT ini bagus untuk jangka panjang. Tetapi selama pengerjaan, akses usaha dan warga jangan sampai tertutup,” demikian keluhan yang disampaikan warga di sekitar kawasan proyek.
Proyek Rp1,14 Triliun
BRT Mebidang merupakan proyek transportasi massal senilai sekitar Rp1,14 triliun yang mendapat dukungan pendanaan dari Bank Dunia (World Bank) dan Agence Française de Développement (AFD).
Sistem tersebut diproyeksikan melayani kawasan aglomerasi Medan, Binjai, dan Deli Serdang sebagai bagian dari upaya memperbaiki layanan transportasi publik sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan.
Pekerjaan fisik yang dimulai sejak Mei 2026 itu antara lain mencakup pembangunan jalur khusus (dedicated lane), pondasi halte, serta berbagai pekerjaan struktur di ruas-ruas jalan utama.
Namun, skala proyek yang berada di tengah kawasan padat aktivitas membuat pengaturan selama masa konstruksi menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, warga meminta pengelola proyek dan pemerintah memastikan setiap titik pekerjaan memiliki manajemen lalu lintas yang memadai. Jalur alternatif, akses menuju pertokoan, permukiman, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya juga diminta tetap terbuka.
60 Bus Listrik pada Tahap Awal
BRT Mebidang ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada 2026 dan beroperasi penuh pada 2027.
Pada tahap awal, layanan akan didukung 60 bus listrik, terdiri dari 55 unit operasional dan lima unit cadangan. Armada tersebut direncanakan melayani lima koridor dengan total jaringan sekitar 168,23 kilometer.
Dalam pengembangan jangka panjang, kebutuhan armada diproyeksikan mencapai 527 unit bus.
Jaringan BRT juga dirancang memiliki 32 halte utama di tengah jalan, ratusan halte pengumpan (feeder), serta dua depo utama di kawasan Amplas dan Pinang Baris. Sistem pembayaran akan menggunakan metode digital, termasuk kartu uang elektronik dan QRIS.
Warga: Jangan Sampai Proyek Jadi Beban Ekonomi
Bagi warga, manfaat BRT baru akan benar-benar terasa setelah sistem tersebut beroperasi. Sementara saat ini, masyarakat harus berhadapan dengan konsekuensi pembangunan yang berlangsung di ruang publik.
Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya mengejar target penyelesaian konstruksi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan ekonomi yang muncul selama pengerjaan.
Pengaturan lalu lintas di sekitar proyek dinilai perlu dilakukan secara konsisten, termasuk penempatan petugas pada titik rawan kemacetan. Informasi mengenai tahapan pekerjaan dan perubahan arus lalu lintas juga diharapkan disampaikan secara terbuka.
Di sisi lain, penataan median jalan sebagai bagian dari pembangunan juga berdampak terhadap keberadaan vegetasi. Pemerintah Kota Medan sebelumnya menyebut sekitar 2.788 pohon terdampak proyek dan berkomitmen melakukan penanaman kembali dengan jumlah lebih banyak di sejumlah kawasan kota.
Jika pembangunan berjalan sesuai target, BRT Mebidang diharapkan menjadi salah satu tulang punggung transportasi publik di kawasan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
Tetapi sebelum manfaat itu dirasakan, pekerjaan konstruksi harus lebih dulu melewati ujian di lapangan: memastikan pembangunan transportasi massal tidak membuat akses warga terputus dan pelaku usaha kehilangan ruang untuk bertahan.(Ronald )